Kamis, 16 September 2010

Apa yang Membuat Seseorang Disebut Kiai?

Jakarta, Dian Umbara. Guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Asep Usman Ismail berpendapat, kitab kuning dan kiai adalah dua hal yang bersifat integral. Penguasaan terhadap kitab kuning membuat seseorang sah disebut kiai meski ia tak mendirikan lembaga pesantren.

Pandangan ini ia lontarkan saat menjadi narasumber bedah buku Kiai Tanpa Pesantren karya Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Pendidikan Agama dan Keagamaan Kementerian Agama Prof Abdurrahman Masud di Jakarta, Selasa (19/11).

Apa yang Membuat Seseorang Disebut Kiai? (Sumber Gambar : Nu Online)
Apa yang Membuat Seseorang Disebut Kiai? (Sumber Gambar : Nu Online)


Apa yang Membuat Seseorang Disebut Kiai?

Buku tersebut mengulas biografi 10 kiai kharismatik di Kudus, Jawa Tengah, yang secara kelembagaan tidak mendirikan pesantren, seperti KH R Asnawi (salah satu pendiri NU), KH Turaichan Adjhuri as-Syarofi (ahli Ilmu Falak), dan KH Syaroni Ahmadi al-hafidz (pakar Qiraat Sabah).

Dian Umbara

Menurut Asep, kitab kuning merupakan khazanah keilmuan yang memiiki ketersambungan silsilah kepada ulama-ulama terdahulu. Kenapa saya bisa merasakan suasana pesantren di Kudus padahal saya orang Sukabumi? Karena kita kitab kuning. Jadi kitab kuning itu bukan tradisi kecil, tapi tradisi besar yang menyamakan kiai di daerah satu dengan daerah lainnya, ujarrya.

Faktor identifikasi kiai dengan pesantren, kata Asep, antara lain karena mengacu salah satu fungsi kiai yang ingin mengader murid-muridnya untuk menjadi para ahli agama di masa mendatang; dan tempat kaderisasi tersebut tak lain adalah pesantren.

Dia menambahkan, kiai terkadang merasa cukup mengajar dan berjuang untuk masyarakat secara luas tanpa mengharuskan dirinya mendirikan pesantren. Pilihan ini, katanya, adalah bagian dari kearifan masing-masing kiai.

Dian Umbara

Kasubdit Pesantren Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag Imam Syafii, pada kesempatan yang sama, mengatakan, meskipun tak memiliki lembaga pesantren, hampir semua kiai memiliki hubungan yang dekat dengan pesantren.

Minimal gurunya adalah orang pesantren atau ia pernah belajar di pesantren, katanya.

Imam menilai, kriteria penyematan gelar kiai yang berkembang di masyarakat belakangan ini kian longgar. Keunggulan ilmu dan kematangan rohani seringkali tak menjadi ukuran.

"Ada kiai rekomendasi/pengakuan masyarakat, seperti Kiai Maemoen Zubair; ada kiai rekomendasi pemerintah, yakni MUI; ada kiai rekomendasi media massa; ada kiai dukungan dunia maya; ada kiai artis," ujarnya mengutip pernyataan KH A Mustofa Bisri. (Mahbib Khoiron)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/48308/apa-yang-membuat-seseorang-disebut-kiai

Dian Umbara

Ini bukan blog dari Mas Dian Tegal sang legenda adsense bukan, tapi kebetulan nama kita mirip. Saya hanya pengurus IPNU dengan nama Dian Umbara..


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Dian Umbara sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Dian Umbara. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Dian Umbara dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock